Powered By Blogger

Jumat, 04 November 2016

LEGENDA DAN SEJARAH GAMPONG TRIENG MEUDURO TUNONG

 
Pada masa Raja Aceh yaitu Teuku Sultan Iskandar Muda memegang kerajaan Aceh.Berkeliling kepelosok daerah,untuk melihat batas wilayah daerah Aceh-Medan.Dengan perjalanan yang cukup lama bersama pengawal raja memakai kenderaan hewan yaitu Gajah.Perjalanan yang cukup jauh dengan memakai waktu yang cukup lama, tibalah keperbatasan Aceh-Medan, yang sekarang disebut Batas Barus (lawe Banok).
            Sepulang dari daerah perbatasan tersebut, singgahlah di daerah yang banyak tumbuh pohon bambu berduri, sambil istirahat mencari air, disekitar pohon bambu berduri nampak sungai kecil (alue) yang airnya mengalir cukup deras, bening, adem, seakan-akan haus dan dagaha terasa hilang. Disekitar sungai tersebut, juga di penuhi pohon bambu berduri, sambil istirahat melepas lelah, serta mengisi air bekal minum untuk perjalanan pulang. Tiba-tiba pengawal raja bertanya kepada raja; ya baginda raja, apakah nama daerah ini ? lalu baginda raja menjawab kita berikan saja nama daerah ini dengan sebutan Bambu Berduri (Trieng Meuduro), karena daerah ini dipenuhi dengan pohon-pohon bambu berduri.
            Kemudian selang beberapa tahun lama nya, sesudah raja Sultan Iskandar Muda keliling Nanggro Aceh dan membuat nama daerah yang pernah disinggahi, seorang warga Aceh Besar (Banda Aceh) yang merantau kedaerah Trieng Meuduro untuk mencari rejeki dan menetaplah di daerah tersebut, yang berasal dari satu keluarga, kemudian di ikuti oleh keluarga lainnya, hingga berkembanglah menjadi sebuah penduduk dari sedikit hingga menjadi banyak. Kemudian daerah ini sangatlah subur,apapun yang ditanami mendapat hasil yang maksimal.
            Dengan ikatan persaudaraan yang sangat kuat, saling bahu menbahu dengan semangat gotong royong yang tinggi dalam berbagai bidang, sehingga terbentuklah sebuah desa yang kecil dengan jumlah penduduk yang sangat besar dengan nama desa Trieng Meuduro.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar